logo
add image
Blog single photo

INDESIA.ID - Jika hanya melihat wajahnya lalu mendengar suaranya tanpa mengetahui namanya, kita pasti tidak akan tau kalau lelaki berbadan tinggi dan ramah itu berasal dari suku Jawa. Kalau pun kita melihat wajahnya dan mendengar ia berbicara lalu baru tau namanya Zuriat Suparjo, kita pasti akan bertanya heran "apakah benar beliau orang jawa?".

Begitulah Zuriat Suparjo. Pemilik suara tertinggi mewakili dapil 10 (Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya dan Simeulu) untuk DPRA selama beberapa periode. Saya lebih senang menyebutnya pangeran Dapil 10. Sebab dari kisah caranya mengelola konstituen, ia cukup punya kans sehingga pemilihnya sulit untuk berbalik hati.

Jika Abdullah Saleh vokal dan Alfatah tiap pilkada mencalon diri untuk muncul ke publik, Zuriat terlihat lebih santai. Ia bahkan hemat komentar. Tapi caranya menyenangkan pemilih dengan menempatkan diri sesuai porsinya di DPRA untuk berbuat banyak bagi konstituen di daerah, membuat namanya selalu terdengar akrab ditelinga masyarakat dapil 10.

Kelebihan lain dari Zuriat adalah kemampuannya mengidentifikasi diri sebagai seorang Aleg dari suku jawa yang mampu berbuat banyak bagi masyarakat yang mayoritas Aceh. Sosok jawa seorang Zuriat Suparjo kemudian lebih meng-Aceh dari pada orang Aceh lainnya ketika ia masuk dalam masyarakat. Caranya bicara, kemampuan bahasanya, gestur tubuhnya dan penguasaannya akan bahasa Aceh yang fasih dan bagus membuat Zuriat benar-benar sangat 'Aceh' dari sebagian orang yang berdarah Aceh.

Seorang teman di Jeuram Nagan Raya menjawab saat saya tanya kenapa tiap pemilu legislatif pilih Zuriat Suparjo ;

"karena Zuriat lebih ingat pada kami dari yang lain" jawabnya mantap.


Penulis : Misri A. Muchsin (Pengamat Sosial dan Masyarakat) 

Top