logo
add image
Blog single photo

Sumber Foto: pixabay.com


Oleh : Nainunisovic *


Suara tembakan terus terdengar memekakkan telinga. Desingan peluru meluncur ke segala arah membelah angin lembah ini. Sesekali ledakan pelontar dan granat membuat debu beterbangan di udara. Situasi semakin menegangkan. Aku masih bersembunyi di belakang sebuah pohon besar, menyaksikan yang lain saling berperang.

Aku sudah sering berperang di lembah mematikan ini. Setiap jengkal tanahnya sudah kukenal dengan baik, seperti mengenal rumah sendiri.

Layar hologram dari jam tanganku kembali berkedip, terlihat jumlah yang tersisa tinggal 5 orang. Hanya satu orang yang akan tetap hidup dan berhasil pulang dengan selamat dari lembah mengerikan ini. Begitulah peraturannya.

AK 47, senjata favorit, kupegang erat2 sambil mata terus mengintai lawan di sekeliling. Sementara sepucuk MP40 aku sampirkan di punggung untuk duel jarak dekat. Aku lebih suka menyebut MP40 ini dengan nama senjata ceceran air, karena derasnya peluru yang keluar bagai air hujan. 

Suara tembakan kembali terdengar. Daun telingaku otomatis mendeteksi sumber suara tembakan. Arah pukul 1... dan satu lagi... arah pukul 6. Aku yakin sekali. Dan benar saja, di atas bukit seorang sniper tengah membidik lawan di bawahnya. Dor! Tinggal 4 orang yang tersisa. Berarti dia berhasil melumpuhkan targetnya. 

Dor dor! Bukan, kali ini peluru AK47 milikku yang mengejar mangsa, menembus dada sang sniper dalam sekejap. 

Alive 3, kembali muncul pemberitahuan lewat layar hologram.

Dengan cepat aku melompat ke arah kanan dan berlindung di sebuah rumah kecil berbentuk persegi, untuk menghilangkan jejak.

Arah jam 9 kembali berdesing tembakan, membisikkan nyanyian kematian. Aku sangat kenal suara senjata yang khas itu. Suaranya yang halus dan lembut, ibarat  gesekan alat musik, namun mematikan. Groza, senjata paling dicari dan hanya bisa di dapatkan dari kotak yang diturunkan pesawat di tengah-tengah hutan. Dia pasti sengaja memamerkan senjata itu agar nyali kami ciut. Tunggu saja ....

Dari jendela kecil aku berusaha mencari posisi bedebah itu di antara kontainer-kontainer besar. 

Dor!

Sebutir peluru Groza menghantam bahu kiri, membuat tubuhku terpental ke bumi. Sial! Ternyata bedebah itu berada di arah pukul 12. Dia berhasil memperdayaku dengan tembakan randomnya ke beberapa arah yang berbeda. 

BUM! Pemilik Groza tiba-tiba terkapar. Bukan bom, itu pelontar atau launcher. Senjata paling mematikan. Sekali terkena tubuhmu akan hancur berkeping, walau telah dilindungi baju baja dan pelindung kepala terbaik. Namun kekurangannya, pelontar memiliki jarak yang terbatas. Begitu juga terlalu dekat pun tidak mungkin digunakan, karena pemakainya akan ikut tarkena ledakan.

Aku berpikir cepat langkah jitu menghadapi lawan terakhir ini. Hanya dalam hitungan detik peluru pelontar akan terbang ke arah ku.

Bum! Benar saja. Tapi serangannya hanya menghancurkan dinding rumah tempat ku bersembunyi. Tentu saja dia membutuhkan jarak yang lebih dekat. Baiklah, sebelum dia berhasil mencari jarak yang ideal, aku harus mengambil langkah cepat.

Setelah melompat dari jendela sempit itu, aku terus berlari zig zag ke arah lawan. Itulah satu2nya cara menghadapinya. Melihat aku justru berlari ke arahnya, dia mengganti senjata lain untuk menyerangku. Kali ini moncong M14 siap mencabik-cabik tubuhku.

Aku terus berlari tanpa berhenti sambil melemparkan beberapa bom es untuk menahan peluru dari musuh. Bom es? Adalah salah satu produk militer paling mutakhir di negri ini. Begitu dilempar ke tanah akan merekah sebuah tameng kokoh dari es. Butuh dua magazen peluru untuk menghancurkannya. Sangat penting dalam pertempuran jarak dekat.

Akhirnya aku tiba pada jarak 50 meter dari musuh, setelah melepaskan bom es terakhir sebagai tameng. Sang lawan kembali memberondong M14 untuk menghancurkan tameng terakhir. Aku masih diam menunggu, belum saatnya membalas.

Tiba-tiba suara tembakan berhenti, pasti karena pelurunya habis. Butuh beberapa detik untuk mengisi magazen amunisi yang baru. Inilah saatnya sejata ceceran air ku beraksi. Baiklah ....

Dalam hitungan persekian detik aku melompat cepat ke arah kanan dari tameng. Sambil kaki masih menggantung di udara, aku telah memuntahkan satu magazen peluru MP40 ke tubuh lawan. Seketika hujan peluru itu merobohkan lawan tanpa perlawanan. 

Yeah, Akhirnya aku berhasil mendapatkan BOYAH!

Aku berhasil keluar lagi hidup-hidup dari dunia ghaib penuh petualangan itu, negri fantasi yang bernama Free Fire, seterunya negri adi daya PUB-G. 

Saatnya kembali ke dunia nyata dengan rutinitas biasa.

Salam BOYAH, kawan. Kutunggu kalian di Mill, lembah angker nan mematikan. Akulah si penguasa Mill!


*Penulis Adalah Seorang Novelis Dan Pecinta Game Free Fire. Diantara karya tulis penulis yg sudah dibukukan adalah The True. 

Top