logo
add image
Blog single photo


INDESIA.ID - Pesta 5 tahunan demokrasi hampir tiba, setiap orang menyambut dengan suka cita sekaligus duka lara, lantas bagaimana para caleg dan pemilih menyikapi penyelenggaraan pemilu 2019 nanti?

Secara konsepsional bahwa pelaksanaan pemilu dibagi tiga jenis aktor sederhana, pertama penyelenggara pemilu dalam hal ini KPU dan Bawaslu, kedua kontestan yang akan berkompetisi yaitu para caleg atau capres beserta parpolnya, yang terakhir para pemilih yang berdaulat sebagai pemberi suara kepada para kompetitor pemilu.

Ada kebiasaan negatif  yang diwariskan oleh para pelaku politik pada setiap pemilu, dan tidak ada tanda tanda upaya yang kuat untuk mengeliminasi warisan politik negatif  ini, kecuali hanya retorika slogan semata yang terucap dari mulut para zoon politicon. Kebiasaan yang saya maksud adalah money politic alias politik uang.

Meskipun, kebiasaan money politik ini terus berlangsung dalam aktifitas perpolitikan indonesia, kini masyarakat kian cerdik dalam menyikapinya. Mereka tidak lagi menjadi objek permainan para politisi caleg semata untuk meraup suara, justru sebaliknya, masyarakatlah yang menjadi subjek permainan politik tersebut.

Ada adagium yang sudah sering terdengar dalam kegiatan politik uang ini yaitu "para caleg yang paling banyak kasih uang maka ia akan terpilih". Masyarakat justru diuntungkan dengan pemberian sejumlah uang oleh para caleg agar mendapatkan legitimasi semu tersebut.

Kampanye menolak politik uang juga tidak jarang didengungkan oleh banyak pihak. Sehingga menimbulkan paradigma baru masyarakat pemilih dalam menyikapi politik uang yang kian hari kian menjamur. "Ambil uangnya tapi jangan pilih orangnya" merupakan kampanye kolektif yang membanjiri setiap ruang publik kita.

Kebingungan para caleg justru mengkristal pada saat memikirkan cara bagaimana memikat para pemilih dengan sejumlah pemberian berupa uang, barang dan sebagainya namun tidak bisa diprediksi apakah ia akan dipilih atau hanya sekedar ucapan pemilih saat transaksi berlangsung.

Pesimisme para caleg semakin tak terbendung Akibat praktik politik uang akhir akhir ini. Mungkin saja Pesimisme ini berubah menjadi keputusasaan para caleg dalam kontestasi pemilu yang mereka ikuti. Memang tidak ada solusi yang lebih kongkret kecuali kembali kepada asas ideal demokrasi, semua pihak harus berpegang teguh pada aturan yang ada, sehingga adagium "suara rakyat adalah suara Tuhan" benar benar termanifestasi dalam agenda demokrasi Kita. Sekian. (*) 



*Luthor Antonius (Penulis adalah pemerhati sosial dan penikmat kopi Arabica

Top