logo
add image
Blog single photo


INDESIA.ID- Beberapa waktu yg lalu presiden Jokowi  melakukan peletakan batu pertama (ground breaking) untuk memulai pembangunan jalan tol yang menghubungkan Banda Aceh  hingga Sigli.

Pembangunan jalan tol Banda Aceh - Sigli ini menimbulkan beragam polemik dari rakyat bawah, khusunya para penjual keripik saree yang selama ini berjualan di pinggiran jalan lintasan Banda Aceh - Sigli.  Sebab dengan adanya jalan tol yang baru rampung tahun 2021 nanti, akan berakibat mengurangnya pembeli atau bahkan sama sekali kehilangan pembeli yang selama ini sering bersinggah hanya untuk beli keripik. 

Seharusnya pemerintah benar benar mengakomodir kepentingan ekonomi masyarakat bawah tersebut, alias tidak serta Merta memutuskan program program pembangunan  yang sifatnya paternalistik.

Falsafah usang tentang pembangunan tol harus segera diakhiri dg falsafah baru yang lebih "human sentris" dan "enviromental sentris". Human sentris berarti pembangunan yang benar benar memperhatikan nilai kemanusiaan baik itu aspek ekonomi, kesehatan, dan sebagainya. Enviromental sentris artinya pembangunan yang dilakukan pemerintah tidak boleh merusak lingkungan alam yang ada.

Masyarakat yang berjualan di daerah saree  tersebut merupakan entitas yang harus menjadi prioritas utama pemerintah eksekutif sebelum melakukan pembangunan jalan tol.  pengabaian dan ketidak pedulian pemerintah akan kepentingan penjual keripik, secara tidak langsung pemerintah telah melakukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia.

Meskipun pembangunan jalan tol Banda Aceh - Sigli telah dimulai namun masih ada waktu bagi pemerintah untuk mengevaluasi kembali keputusan yang sudah direncanakan atas proyek tol tersebut. Agar di kemudian hari pembangunan jalan tol tidak meninggalkan luka bagi rakyat bawah kusus nya para penjual keripik yang ada disare. Kalaulah tetap dilanjutkan maka pemerintah harus bertanggung jawab dengan menyodorkan solusi atas persoalan yang dialami para penjual keripik tersebut agar mereka tetap bisa berjualan seperti biasanya tanpa ada hambatan.


Luthor Antonius (Penulis adalah seorang traveling dan penikmat keripik Saree) 

Top