logo
add image
Blog single photo
INDESIA.ID-Dalam banyak kesempatan, caleg yang datang berkonsultasi selalu saya sampaikan, kalau spanduk atau baliho yang banyak bukan ukuran kemenangan. Berkaca dari pemilu legislatif sebelumnya, justru kadang baliho menjadi "kafan" kegagalan sang Caleg. 

Di Aceh Besar 2014 lalu ada caleg yang balihonya menjamuri tepi jalan justru membuat publik menjadi tak simpatik bahkan merusak mood pemilih. Alhasil dia bukan hanya gagal, tapi jauh untuk bisa mencium aroma kursi kemenangan.

Dibandingkan baliho, nomor urut menjadi lebih menentukan tingkat keterpilihan, walaupun bukan jaminan. Contohnya Irwan Johan yang memilih maju DPRA dengan nomor urut paling akhir melalui Partai Nasdem. Tapi penting untuk diketahui, popularitas Irwan Johan sangat kuat sebab saat itu ia baru saja mencalonkan diri menjadi calon Walikota Banda Aceh.

Demokrat dari hasil survei perpeluang besar mendapatkan kembali satu kursi untuk DPRA dari dapil 10. Siapa yang akan mendapatkannya? Itulah pertanyaan publik, terutama tim sukses. Perlu diketahui, perang sesungguhnya dalam partai yang berpotensi mendapatkan kursi adalah perang internal caleg antara nomor urut satu sampai nomor urut 10. Kursi sudah pasti, tapi yang mendapatkannya perlu mengalahkan rekan satu ring.

Penulis kali ini mencoba mengulas potensi caleg Demokrat dapil 10 yang akan tembus menuju DPRA 2019 nanti. Dari semua caleg tentu saja ada beberapa yang penulis anggap berpotensi dan kuat (setidaknya secara atribut) untuk lolos. Peluang dan kelebihan juga relasi menjadi sangat penting sebagai pendorong suksesi pesta demokrasi. 

Dari caleg Demokrat dapil 10 Aceh (Aceh Jaya, Aceh Barat Nagan Raya dan Simeulu), setidaknya ada 3 kandidat yang dianggap kuat. Pertama, nomor urut satu Herman SE, kedua, nomor urut 5 Edi Kamal dan ketiga, no urut 8 Tgk Buchari (Tu). Ketiga kandidat caleg ini punya modal finansial yang cukup untuk bertarung dan dianggap unggul dari caleg DPRA demokrat dapil 10 lainnya. 

Kekuatan finansial menentukan seseorang menang, tapi kekuatan finansial justru harus bisa mendongkrak pupularitas. Sebab banyak kasus kuat di finansial justru dimanfaatkan timses. Publik melihat ketiga caleg diatas paling kuat perang atribut kampanye. Edi Kamal bahkan hampir semua tempat punya atribut kampanye. Tapi itu bukan jaminan kemenangan.

Selain kekuatan finansial, yang paling penting bagi caleg adalah kekuatan struktural. Struktur partai adalah salah satu yang paling menentukan kemenangan. Penguasaan atas struktural partai memungkinkan seseorang lebih berpeluang untuk lolos sebab mesin partai adalah pendongkrak utama suara selain keluarga.

Dari ketiga caleg demokrat yang penulis sebutkan tadi, caleg nomor urut satu Herman SE paling kuat penguasaan struktur partai jika kita memahami dinamika Demokrat Aceh Barat. Dalam demokrat dapil 10, Iskandar Daod (Aleg DPRA sekarang) adalah yang paling kuat pengaruhnya. Berkali-kali menang dan tak bisa dikalahkan layaknya Alfatah di PAN. Sedangkan yang maju menjadi caleg nomor urut satu adalah keluarga Iskandar Daod dan Herman dikenal lebih berpengalaman soal suksesi pemenangan dibandingkan dua kandidat dibawahnya. Selain nomor urut cantik sebagai modal paling mudah diingat publik, ia juga punya basis Pak Iskandar tentunya. 

Sedangkan Edi Kamal dan Tu Buchari tidak sekuat Herman SE dalam penguasaan struktur partai. Jika diantara Edi Kamal dan Tu Buchari mengklaim akan dibantu oleh penguasa daerah, maka suara mereka secara pasti akan saling beririsan. Sebab bukan hanya Edi Kamal yang berjasa pada Pilkada Nagan Raya, Tu Buchari justru merupakan singa panggung kampanye JADIN. Belum lagi tim JADIN dulu pasti terpecah saat Pemilu legislatif 2019 nanti.

Seperti kata salah satu politisi yang sekarang Aleg DPRA, Edi Kamal merupakan pemain baru. Pemain baru cenderung eforia dan paling kuat tancap gas dilihat dari atribut kampanye dilapangan. Dibandingkan Edi Kamal, Tu Buchari lebih berpengalaman dan sudah merasakan bagaimana brutalnya belantara politik menuju DPRA 2014 lalu.

Bagi calon legislatif baru apalagi yang kuat finansial, akan sangat rentan dimanfaatkan timses. Banyak kasus seperti itu terjadi. Timses kadang berperan sebagai penyanjung dengan segala puja-puji kepada caleg. Jika caleg memberi angin segar kepada pemilih, maka timses memberi aroma segar kepada caleg agar pundi-pundi rupiah bisa dengan mudah dikuras. Oleh sebab itu, percaya pada tim sukses secara berlebihan adalah upaya bunuh diri paling sadis dalam perang perebutan kursi.

Dari kajian kami, ada banyak alasan dan berdasarkan fakta lapangan yang kami dapatkan kenapa Caleg no urut satu Herman SE paling potensial menang pada april 2019 nanti menuju DPRA. Namun bagi caleg yang lain tak perlu berkecil hati. Sebab ada banyak jalan menuju roma. Hasil biasanya setimpal dengan usaha. Tulisan ini setidaknya berguna sebagai refleksi bagi kandidat lain untuk terus berusaha secara maksimal dan lebih jeli melihat peluang, mengingat waktu masih tersisa beberapa bulan lagi. Bukankah dalam politik tidak ada yang tidak mungkin?. Maka, kejarlah!. 


Penulis : Hasan A. Misri (Pengamat Politik Dan Kebijakan Publik) 


Top