logo
add image
Blog single photo

INDESIA.ID - Langit di kota santri, Samalanga, mulai gelap. Di ufuk barat semburat cahaya merah sang mentari membentang indah. Semilir angin mulai berhembus dingin. Di langit, kelompok kelelawar mulai terbang ke arah selatan mencari penghidupan. Namun gadis anggun itu masih tak beranjak dari beranda rumahnya. Matanya menatap kosong ke halaman rumah yang sudah mulai gelap. Hatinya masih memikirkan masa depannya yang lebih gelap dari pada malam yang sebentar lagi turun ke bumi. Seminggu lagi dia akan menikah dengan lelaki yang tidak pernah dicintainya itu.

***

Satu tahu sebelumnya. 1985.

Pada hari yang cerah itu Ahmad tampak begitu semangat untuk berangkat kerja. Ini adalah hari pertama ia akan bekerja di sebuah kantor. Umur Ahmad ketika itu sudah 35 tahun dan ia belum menikah. Lelaki berkulit sawo matang itu adalah tipe pekerja keras. Semenjak ayahnya meninggal dunia dialah yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarga. Berbagai macam kerja sudah pernah dia coba, mulai dari menjahit, kerja bangunan, panjat kelapa sampai belajar membuat atap rumah dari ayaman daun rumbia. Namun tidak ada satupun dari kerja tersebut yang cocok untuknya, hingga akhirnya dia diterima bekerja di sebuah kantor dengan gaji yang cukup.

Dengan semangat yang tinggi segera dihidupkannnya motor kebangaannya itu, Honda Astrea C-700. Perlu kau tahu, kawan, pada waktu itu Honda Astrea C-700 sudah termasuk kendaraan yang mewah. Kebanyakan orang ketika itu masih menggunakan sepeda. Jadi bisa kalian bayangkan betapa banyak anak gadis yang naksir sama Ahmad karena motor hebatnya itu. Tapi belum ada gadis yang memikat hatinya sejauh ini.

Baru saja motor Ahmad melewati pintu pagar rumahnya, tiba-tiba ia berhenti. Seketika alam semesta pun ikut berhenti. Waktu seakan  berhenti, udara berhenti, dan suara kicauan burung pagi juga berhenti. Lihatlah, gadis anggun itu tengah mengayuh sepeda ke sekolahnya! Ramput hitam kuncir kudanya melambai indah... Itulah pemandangan yang telah menghentikan dunia Ahmad pagi ini. Ahmad masih terpaku melihat sang gadis, seolah-olah inilah untuk pertama kalinya ia melihat makhluk bernama wanita. Selama ini ia terlalu sibuk kerja banting tulang sehingga ia tidak pernah memikirkan tentang cinta. Pagi ini ia telah menemukan cinta sejatinya.

"Inilah jodohku ...," ucap Ahmad dalam hati.

Sementara gadis cantik itu hanya melihat sekilas ke arah Ahmad dan motor mewahnya. Ia menatap Ahmad tanpa ekspresi apa-apa, seolah Ahmad hanyalah tembok yang berdiri di tepi jalan. Kemudian gadis tersebut berusaha mempercepat laju sepedanya menuju sekolah SMA Samalanga.

Hari itu Ahmad berangkat ke kantor dengan hati yang berbunga-bunga. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia telah telah jatuh cinta kepada seorang gadis.

Sejak saat itu mulailah ia menyusun strategi untuk mengenal gadis anggun dan lembut itu. Hanya dalam hitungan hari Ahmad sudah punya sedikit informasi tentang gadis itu. Namanya Sabila. Tinggal di desa Sawah Kota, hanya berjarak 1 KM dari desa Ahmad. Ayahnya adalah seorang Ustaz berpengaruh di desa itu. Dan Sabila belum memiliki pacar! Mana mungkin anak seorang ustaz pacaran, pikir Ahmad. Saat itu juga Ahmad bertekad melamar Sabila dalam waktu dekat.

Sebelum melamar Sabila secara resmi, ada langkah lain yang dilakukan keluarga Ahmad untuk mendekati keluarga Sabila. Mulai saat itu ibu Ahmad sering kali mengunjungi rumah Sabila untuk silaturrahmi. Setiap mengunjungi ibunya Sabila, ibunya Ahmad selalu membawa makanan, buah-buahan, dan barang lainnya. Hari demi hari hubungan keluarga Ahmad dan Sabila sudah sangat dekat.

Sementara Sabila sangat tidak menyukai keadaan ini. Ia tahu betul tujuan kedatangan ibunya Ahmad ke rumahnya. Cepat atau lambat mereka pasti akan menjodohkan dirinya dengan laki-laki berkulit gelap itu. Ia sebenarnya tidak menyukai lelaki itu. Namun selama ini ia diam saja.

Sabila juga tidak pernah sama sekali menyapa ibunya Ahmad yang berkunjung ke rumahnya. Entah kenapa ia juga tidak menyukai ibunya Ahmad. Setiap ibunya Ahmad berkunjung ke rumahnya, ia selalu berusaha keluar dari rumah.

"Ngapain nenek itu setiap hari datang kemari, bu?" tanyanya suatu hari dengan nada tidak suka.

"Eh, kenapa kamu ngomongnya begitu, Sal? Tidak sopan tahu, sudah menjadi kewajiban kita memuliakan tamu dan menjaga tali silaturrahmi," jawab ibunya Sabila lembut.

"Terserah ibu, pokoknya aku tidak mau dijodohkan dengan lekaki itu," jawab Sabila lagi sambil melangkah keluar.

Ibunya Sabila hanya menggeleng heran melihat sikap anak gadisnya itu.

***

Akhirnya hari itu pun tiba. Keluarga Ahmad datang melamar Sabila secara resmi. Sampai saat itu Sabila sebenarnya masih tidak bisa menerima cinta Ahmad. Tapi ia tidak mungkin menolak lamaran Ahmad. Ia tidak ingin membuat malu ayahnya. Ayah Sabila adalah seorang yang keras dalam mendidik anaknya. Kalau sampai ia menolak lamaran Ahmad ia takut ayahnya akan murka. Maka dengan berat hati ia menerima lamaran itu. Tapi dengan satu syarat.

"Sabila ingin kuliah dulu, setelah selesai kuliah nanti baru kita nikah. Bagaimana?" kata Sabila menatap Ahmad. Ia berharap Ahmad tidak menerima syarat itu yang berarti perjodohan mereka batal.

"Apa-apaan kamu, Sal, itu syaratnya terlalu berlebihan. Tidak mungkin Ahmad harus menunggu kamu kuliah 4 tahun. Kamu jangan mengada-ngada!" jawab ayahnya Sabila dengan marah.

Sabila hanya diam, tidak menjawab. Ia kembali menatap Ahmad, ingin mendengar jawaban dari lelaki itu.

Dengan senyum hangat di wajahnya, Ahmad menjawab,

"Tidak mengapa, aku sanggup menunggu hingga beberapa tahun kedepan." Aku bahkan sanggup menunggumu seumur hidupku, tambah Ahmad dalam hati. Cintanya kepada Sabila sangat besar, ia tidak ingin menghalangi cita-cita Sabila untuk kuliah. Dia mencintai apapun pilihan Sabila.

Maka setelah tamat SMA Sabila pergi ke kota Banda Aceh bersama teman-temannya untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Setelah beberapa minggu di Banda Aceh akhirnya keluarlah hasil pengumuman tes. Semua teman-temannya lulus dan diterima kuliah di sebuah perguruan tinggi. Kecuali Sabila. Tak terkira sedihnya hati Sabila menghadapi kenyataan ini.

Sebelum pulang ke kampung, Sabila sempat bertanya kepada pihak kampus kenapa ia tidak lulus, padahal teman-temannya lulus semua. Mungkin ada sesuatu yang salah, pikir Sabila. Kebetulan ada orang kampung Sabila yang bekerja disitu. Nama beliau Pak Syawal.

"Maafkan saya, dek Sabila. Sebenarnya kamu lulus, tapi bapakmu yang meminta kepadaku untuk menyatakan kamu tidak lulus. Kata ayahmu, tidak lama lagi kamu akan segera menikah. Jadi ayahmu tidak mengizinkan kamu untuk kuliah. Sekali lagi maafkan saya ...."

Mendengar jawaban Pak Syawal, hati Sabila menjadi hancur berkeping-keping. Air matanya tumpah tak terbendung. Dadanya menjadi sesak. Dunia seakan telah kiamat bagi Sabila. Kuliah di sebuah perguruan tinggi adalah cita-cita terbesar Sabila. Kini kesempatannya itu telah direnggut dengan sangat kejam. Sekarang ia semakin membenci Ahmad. Bukankan semua ini disebabkan oleh lelaki itu?

Hari-hari berikutnya merupakan masa paling gelap dalam kehidupan Sabila. Ia masih sakit hati dengan sikap ayahnya yang membatalkan kuliahnya. Kesedihan yang begitu berat tidak sanggup lagi ditanggungnya sehingga membuatnya jatuh sakit dan tubuhnya semakin kurus. Bahkan beberapa kali terlintas dipikirannya untuk bunuh diri saja.

Ayah dan ibu Sabila semakin khawatir melihat kondisi anaknya. Akhirnya timbul ide untuk memasukkan Sabila ke sebuah pesantren agar kondisinya membaik. Setelah itu baru mereka pikirkan kembali acara pernikahan Sabila dengan Ahmad.

Maka dikirimlah Sabila untuk mondok di salah satu pesantren terkenal di Aceh. Pesantren tersebut diasuh oleh seorang ulama kharismatik Aceh yang bernama Abu Kuta Krueng.

Ajaibnya, tidak lama setelah tinggal di pesantren keadaan Sabila langsung berubah. Suasana belajar mengajar di pesantren ini telah membuat Sabila kembali bisa tersenyum. Apalagi Sabila sangat dekat dengan keluarga Abu Kuta, pimpinan pesantren. Istri beliau bahkan sudah menganggap Sabila seperti keluarga sendiri.

Ada dua hal yang membuat Sabila istimewa di mata keluarga Abu Kuta. Yang pertama Sabila orang yang cerdas dan pandai mengaji. Selama di pesantren itu, Sabila malah lebih sering mengajarkan anak-anak yang lain mengaji. Untuk membaca al Quran, tidak ada lagi yang bisa mengajar Sabila, karena memang bacaannya sudah sangat bagus. Jadi selama di pesantren ini ia lebih banyak mengajar dari pada belajar. Kemudian yang kedua, Sabila paling pandai dalam urusan memasak. Inilah yang membuat ia lebih akrab dengan keluarga Abu Kuta dan murid-murid senior.

Sudah hampir satu tahun Sabila tinggal di pesantren Abu Kuta Krueng. Selama di sana ia benar-benar telah melupakan semua kesedihannya. Bahkan ia telah lupa tentang rencana pernikahannya dengan Ahmad. Berat sekali rasanya jika ia harus meninggalkan pesantren itu. Tempat itu sudah seperti rumah sendiri bagi Sabila.

Tapi takdir berkata lain, ia justru akan segera mengucapkan salam perpisahan pada tempat itu. Ayahnya baru saja datang dan sudah meminta izin kepada pimpinan pesantren untuk membawa pulang Sabila ke kota Samalanga.

Dalam perjalanan pulang Sabila tak henti meneteskan air mata sambil bersandar di bahu ibunya. Sangat berat rasanya meninggalkan keluarga Abu Kuta dan kawan-kawannya di pesantren.

"Sabila, kamu harus siap. Minggu depan kalian akan menikah!" kata ayahnya begitu mereka sampai di rumah.

Sabila tidak menjawab. Ia sudah tahu hari itu akan sampai juga. Ia akan menikahi lelaki yang sama sekali tidak dicintainya. Ia tidak pernah menyangka kisah cintanya akan seperti kisah roman Siti Nurbaya. Tapi selama di pesantren ia telah banyak belajar untuk bersabar dan patuh pada orang tua. Ia akan mencoba untuk menjalankan semua ini dengan ikhlas.

Sabila masih duduk di beranda rumahnya sampai azan Magrib berkumandang.

***

Hari itu pun tiba. Kedua mempelai telah duduk bersanding di pelaminan. Wajah Ahmad terlihat sangat senang. Sementara Sabila butuh usaha yang keras untuk membentuk sebuah senyumam yang wajar di wajahnya. Dalam hati ia berjanji akan berusaha belajar mencintai Ahmad.

Hari berganti bulan dan bulan berganti tahun. Cinta Sabila kepada Ahmad semakin tumbuh perlahan-lahan. Sementara Ahmad tidak pernah berubah cintanya kepada Sabila. Dari dulu sampai sekarang, cintanya kepada Sabila tidak pernah bergeser, walau seujung kuku. Jika terjadi pertengkaran kecil diantara mereka, Ahmad selalu memilih untuk mengalah. Ketika mulut cerewet manja Sabila menyerangnya, ia hanya diam, tidak mau mendebat istrinya untuk menjaga hati sang istri. Kadang jika Sabila lagi emosi dan berteriak marah, Ahmad akan segera meninggalkan rumah sampai suasana hati istrinya itu kembali baik. Begitulah Ahmad senantiasa menjaga hati wanita yang sangat dicintainya itu.

Kini usia pernikahan mereka telah memasuki 10 tahun. Mereka sudah dikarunia 3 orang anak. Dua anak lekaki dan satu perempuan. Kehidupan mereka semakin bahagia. Dan Sabila sangat mencintai dan menyayangi keluarga kecilnya itu.

Ketika mereka tengah menikmati masa-masa bahagia itulah, cobaan Tuhan menimpa keluarga kecil itu. Ahmad jatuh sakit. Semakin hari keadaannya semakin buruk. Hingga akhirnya Ahmad menghembuskan nafas terakhirnya di sebuah rumah sakit kota Medan.

Setelah lama tidak pernah menangis bahkan sudah lupa bagaimana rasanya kesedihan, kini tangisan Sabila kembali pecah. Ia belum siap berpisah dengan Ahmad. Ini adalah kesedihan tak tertahankan yang pernah dialaminya. Kembali terbayang sikap suaminya itu kepadanya. Bagaimana sabarnya Ahmad dalam mencintainya. Juga terbayang semua sifat-sifat mengagumkan Ahmad selama ini. Sepanjang malam Sabila tidak bisa berhenti menangis, sampai air matanya kering, habis tak tersisa.

"Maafkan Sabila, bang. Maafkan semua sikap buruk Sabila selama ini ... Sabila sebenarnya sangat mencintai abang ...."

Setelah ditinggal mati Ahmad, Sabila tidak pernah menikah lagi sampai sekarang. Padahal umurnya pada waktu itu baru 34 tahun. Tidak sedikit lelaki yang datang melamarnya semenjak suaminya meninggal. Tapi semua ditolaknya.

Pernah kutanyakan sekali,

"Kenapa, mak?"

"Aku masih mencintai ayahmu. Tidak ada yang bisa menggantikannya lagi di hati ini," jawab ibuku.

Kawan, demikianlah kisah ini kuceritakan kepadamu sebagaimana yang kudengar langsung dari mulut ibuku.


***Tamat***



Penulis : Alexandre Biruny

Editor/Terj : Setadewa

Top