logo
add image
Blog single photo

Sumber poto: Mimpiikan.blogspot.com


Oleh : Nainunisovic*

Sudah satu minggu bocah itu tidak muncul di sekolah. Biasanya dalam seminggu Kamarud hanya bolos dua atau tiga kali, tidak lebih. Semua juga sudah tahu kebiasaan buruknya itu. Berulang kali sudah dinasehatkan tidak mempan juga. Tapi ini sudah keterlaluan, minggu ini sehari pun bocah kurus kering hitam itu tidak nampak di sekolah. 

Pak Abdullah, kepala sekolah MIN Samalanga itu menghela napas panjang. Aku harus ambil tindakan tegas kali ini, katanya pada diri sendiri.

“Ada yang tahu dimana Kamarud satu minggu ini?” tanya Pak Abdullah kepada murid kelas enam.

Semua murid menggeleng. “Tidak tahu, Pak!”

“Salim, kamu tahu dimana saja Kamarud selama ini? Kalian berdua kan teman dekat?” Kepala sekolah berjalan ke meja paling belakang, tempat duduknya Kamarud dan Salim.

Salim mengangkat bahu. “Saya juga tidak tahu, Pak. Biasanya dia ada di pertambakan desa kita. Tapi belakangan ini saya tidak melihat dia lagi di sana.”

“Baik, kalau begitu besok Salim ikut dengan bapak. Kita harus cari Kamarud sampai dapat, kita seret dia ke sekolah. Sebentar lagi ujian akhir, apa dia tidak mau lulus?” Setelah itu kepala sekolah keluar meninggalkan kelas 6 MIN kota Samalanga itu.

Sementara itu, berjarak 2 mil dari sekolah MIN Samalanga seorang bocah kurus kering terlihat berdiri di sebuah pematang tambak udang. Warna kulitnya semakin hangus karena setiap hari dibakar sinar mentari. Sebuah topi lusuh tidak pernah lepas dari kepalanya. Di pinggang mungilnya terikat kuat sebuah tas dari kain. Ia sudah siap untuk melakukan aktivitas rutinnya. Bocah itu sudah melakukan kerja itu sejak kelas 3 MIN. Namanya Kamarud. Semua petani tambak daerah itu pasti mengenalnya.

Kamarud beserta bebarapa orang dewasa lainnya masih menunggu dengan sabar di atas pematang tambak. Tentu saja mereka menunggu pemilik tambak mengambil semua hasil panennya berupa ikan dan udang. Setelah pemilik tambak merasa cukup, sisanya baru diberikan kepada para ‘pengemis’ atau pemburu udang itu. 

“Serbu!”

Akhirnya waktu yang ditunggu Kamarud tiba. Itulah aba-aba dari pemilik tambak bahwa ia sudah mengizinkan Kamarud dan yang lainnya terjun ke dalam tambak.

Dengan cekatan Kamarud melompat ke dalam tambak yang sudah dikeringkan sebagian airnya itu, agar lebih mudah mengambil isi tambak. Kamarud segera berjongkok dalam air yang penuh lumpur hitam tersebut, sehingga hanya kepalanya yang nampak ke permukaan air. Ia terus bergerak dengan tenang sambil tangannya meraba-raba dalam lumpur untuk menangkap udang. Orang Aceh menyebut aktivitas itu dengan Keumukup, menangkap udang dengan tangan kosong. Udang yang menjadi target mereka biasanya adalan udang windu atau disebut juga udang harimau. Harganya paling mahal dibandingkan udang atau ikan lainnya. 

Bagi yang tinggal di daerah pesisir atau dekat dengan area pertambakan pasti tidak asing lagi dengan aktivitas Keumukup tersebut. 

Tidak mudah melakukan Keumukup. Dibutuhkan kecepatan dan skill khusus. Mereka yang masih level amatiran bahkan menangkap satu ekor udang saja bisa kewalahan. Memang benar udang biasanya tidur di permukaan tanah pada waktu siang, tapi mereka sangat sensitif. Begitu tangan mu menyentuh kulit udang, ia akan segera melontarkan tubuhnya untuk meloloskan diri. Maka tidak heran banyak para pemula di dunia Keumukup yang pulang dengan tangan hampa.

Keumukup akan menjadi aktivitas yang cukup seru jika kalian sudah mulai terbiasa dan berhasil menangkap beberapa ekor udang. Ada rasa gembira yang sulit dijelaskan  menyusup ke hatimu setiap berhasil menangkap seekor udang, apalagi yang ukurannya tiga jari orang dewasa, harganya bisa mencapai 10.000 per ekor. Seolah yang kau pegang itu adalah batangan emas. Intinya keumukup lebih seru dari pada game online yang lagi hits sekarang semisal Pub G, Free Fire atau Mobile Legend.

Tapi terkadang aktivitas Keumukup juga agak beresiko. Beberapa tambak ada yang dihuni oleh mahkluk air yang berbahaya dan bisa menerormu ketika lagi asyik berendam menangkap udang. Jika tidak jeli kalian justru menangkap ular yang semula kau kira belut. Atau jika tidak hati-hati, tanganmu bisa ditebas kepiting bakau jumbo. Salim bahkan pernah ditikam oleh ikan lele liar tepat di bokongnya. Butuh waktu setengah jam baru bisa mencabut durinya. 

Yang lebih mengerikan jika kamu harus berhadapan dengan ikan bandeng jumbo sebesar paha orang dewasa. Ikan bandeng adalah jesnis ikan yang memiliki top speed nomor wahed di tambak. Ia seperti Gareth Bale kalau di dunia sepak bola, sangat cepat. Jika ukurannya masih kecil mungkin tidak terlalu berbahaya jika tiba-tiba menabrakmu di dalam air. Tapi kalau ukurannya sudah jumbo sebaiknya kalian cepat-cepat menyingkir. Kamarud pernah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ikan bandeng jumbo menerjang kawannya, Udin. Seketika Udin jatuh pingsan setelah ditabrak ikan bandeng itu tepat di kepalanya.

Tapi karena Kamarud sudah mencapai level master dalam dunia Keumukup, maka tidak ada satupun dari makhluk air tersebut yang berbahaya baginya. Tangannya ibarat dikaruniai sepasang mata yang bisa melihat dalam air berlumpur. Ibarat mesin otomatis, tangan Kamarud dengan mudah menangkap makhluk air apa saja yang disentuhnya. Ular? Seperti mainan saja baginya, setelah ditangkap biasanya ular tersebut diputar-putar di udara sebelum akhirnya dihempaskan ke daratan. Jika orang lain menghindari area yang banyak kepiting karena takut digigit, Kamarud justru melompat ke tempat tersebut. Tidak sampai satu menit ia sudah berhasil melumpuhkan seekor kepiting bakau jumbo.

Namun untuk menghadapi ikan bandeng jumbo Kamarud butuh sebuah senjata. Cukup sebatang kayu. Belum sempat ikan bandeng menyalip di depannya, sang ikan sudah duluan terkapar di permuakaan air. 

Begitulah kehebatan Kamarud dalam dunia Keumukup yang seru itu. 

Hari ini hasil keumukup Kamarud lumayan memuaskan. Ia berhasil membawa pulang 12 ekor udang harimau dan dua ekor ikan bandeng sebesar telapak tangan. Kamarud segera menjual semua udang tersebut karena ia lagi butuh uang, sementara ikan bandeng dibawa pulang ke rumah untuk dimasak.

Keesokan harinya Kamarud tetap tidak hadir ke sekolah. Seakan udang-udang di tambak itu telah meniupkan pengaruh jahat kepada Kamarud, hingga ia telah lupa dengan sekolahnya. Entah apa yang dipikirkan bocah berumur 12 tahun itu. 

Pukul 9 pagi kepala sekolah sudah siap mencari Kamarud dimanapun dia berada. Beliau berniat membawanya langsung ke sekolah, bila perlu ia harus dihukum agar jera. Pak Abdullah pergi dengan motor Astrea C-700 kebanggaannya. Salim juga ikut dibawa sebagai penunjuk jalan. Mungkin ia tahu daerah mana saja Kamarud sering pergi mencari udang.

Hampir saja mereka menyerah mencari Kamarud. Selama satu jam keberadaan Kamarud masih belum ditemukan. Hingga akhirnya mereka menemukannya di sebuah sungai yang terletak di ujung desa. Mungkin karena hari itu tidak ada tambak yang panen, Kamarud memutuskan memburu udang di sungai.

Kamarud sangat terkejut dengan kedatangan kepala sekokah. Dari posisi jongkok dia segera berdiri seperti patung menghadap ke arah Pak Abdullah dan Salim. Wajahnya penuh dengan lumpur hitam. Topi berwarna biru lusuh melindungi kepalanya dari sengatan sinar matahari. Sebuah tas dari kain masih melekat di pinggangnya. Beberapa udang tampak meronta ingin keluar dari tas kain itu. Seekor udang Harimau masih terjepit di mulut Kamarud. Mungkin udang tersebut baru saja ditangkap dan belum sempat dimasukkan ke dalam tas di pinggangnya.

"Maafkan saya Pak," ucap Kamarud, udang di mulutnya kembali jatuh ke air. "Tolong jangan hukum saya Pak." Baru kali ini Salim melihat Kamarud meneteskan air mata. Kamarud pasti sadar telah melakukan kesalahan besar, hingga membuat kepala sekolah memburunya sejauh itu.

Perlahan Kamarud keluar dari sungai, kemudian naik ke daratan mendekati kepala sekolah. 

"Berapa kali bapak sudah ingatkan kamu supaya tidak bolos sekolah lagi, Kamarud! Bisa tolong kamu jelaskan semuanya kepada bapak, tentang semua ini. Untuk apa kamu harus bekerja seperti ini?" Kata kepala sekolah sambil menatap Kamarud dari ujung kepala sampai kaki. 


"Maafkan saya Pak," ulang Kamarud sambil menyeka air matanya. "Sebenarnya saya sangat ingin sekolah setiap hari seperti anak-anak yang lain. Tapi itu tidak mungkin, saya terpaksa bolos sekolah untuk mencari uang. Kalau tidak, bagaimana saya bisa beli perlengkapan sekolah dan bayar SPP. Ayah saya hanya seorang petani, tidak sanggup menanggung biaya sekolah kami berlima. Sebagai anak lelaki saya berusaha meringankan beban ayah saya, setidaknya cukup untuk biaya sekolah. Dan sebentar lagi saya akan masuk SMP,  butuh uang lebih untuk pertama masuk. Itulah kenapa minggu ini saya tidak masuk sekolah. Saya butuh uang untuk persiapan masuk SMP nanti. Saya_"

"Cukup-cukup ... Kamarud," potong kepala sekokah. Mata Pak Abdullah mulai berembun mendengar pengakuan Kamarud. "Maafkan bapak juga Nak, seharusnya bapak lebih sering mengunjungi rumahmu .... "

Kepala sekolah merendahkan tubuhnya untuk mengelus kepala Kamarud. "Dengar, Kamarud, mulai besok kamu tidak boleh bolos sekolah lagi. Bapak janji, semua keperluan sekolah kamu akan bapak tanggung. Tapi kamu harus janji juga sama bapak, jangan pernah bolos lagi, ok?" tanya kepala sekolah sambil tersenyum kepada Kamarud.

Kamarud mengangguk dengan sungguh-sungguh. 

"Aku berjanji!"

Tamat.


*Penulis Adalah Seorang Novelis Dan Pecinta Game PUBG. Diantara karya tulis penulis yg sudah dibukukan adalah The True. 

Top