logo
add image
Blog single photo

INDESIA.ID - Tak ada gading yang tak retak. Begitulah pepatah lama yang dihafal benar oleh masyarakat Indonesia khususnya rumpun melayu tatkala dihadapkan pada kekurangan-kekurangan atau kekeliruan yang terjadi atas suatu peristiwa. Tragedi disalah satu ibu kota kabupaten di Aceh, yaitu Nagan Raya begitu menyita perhatian publik. Pasalnya, suasana politik di Kabupaten "rameunee" itu terbilang selalu panas dan hidup.

Peristiwa hari senin (12/11/2018) di Dinas Kesehatan Nagan Raya menurut sejumlah kalangan Bupati mengeluarkan kata-kata "biadab". Beberapa hari kemudian kata-kata tersebut diklarifikasi menjadi "tak beradab". Muncul kemudian pertanyaan, kenapa istri salah satu Keuchik (kepala desa) terlihat menangis dalam video yang tersebar viral dimedia sosial sembari menyebut kata-kata kasar itu?

Penulis tidak tertarik untuk membahas baik kata biadab ataupun tak beradab. Kedua kata tersebut jika dibesar-besarkan justru akan menjadi jualan politik yang laris mengingat kampanye pemilu legislatif sedang berlangsung. Yang paling penting menurut penulis adalah mengetahui siapa yang paling bertanggung jawab sehingga peristiwa tidak itu terjadi.

Menurut sejumlah sumber, pada hari yang sama dengan acara di dinas kesehatan Nagan Raya itu, para Keuchik juga mendapatkan undangan resmi di tiga tempat lainnya. Sehingga kemudian lahirlah banyak komentar mengenai peristiwa ini, seperti menyebut Keuchik tidak mengerti skala prioritas atau jangan salahkan Keuchik karena pada hari yang sama undangan ada tiga tempat. 

Kepala Daerah Punya Protokoler

Keterlambatan acara atau molor waktu semacam kelaziman di negeri ini. Kita memang seperti bangsa yang punya banyak waktu. Di beberapa tempat, kepala daerah bahkan tidak akan datang untuk menghandiri acara jika belum benar-benar siap, karena memang disitu letak wibawanya pemerintahan. Dan yang memastikan semua kesiapan acara supaya kepala daerah tidak "planga plongo" adalah protokoler. 

Protokoler sejatinya adalah citra pemerintah sekaligus time keeper disetiap acara. Jika ada Kepala daerah yang menunggu undangan hadir itu yang salah ada protokolernya. Bahkan lebih spesifik, protokoler harusnya mengatur semua, mulai dari waktu, tempat dan bahkan dekorasi. 

Kejadian hari senin di dinas kesehatan Nagan Raya tidak terlepas dari kesalahan protokoler yang seharusnya sudah memastikan acara secara matang, salah satunya dengan memastikan semua undangan seperti para kepala desa sudah lebih dulu hadir. Apalagi acara dibuat juga oleh instansi pemerintahan seperti Dinas Kesehatan. 

Seharusnya kejadian memilukan atas kepala desa tidak terjadi dan bupati tidak jatuh wibawanya dengan menunggu para Keuchik ataupun undangan datang. Singkatnya ini bukan sepenuhnya salah bupati, bukan juga kesalahan para kepala desa, tapi mutlak salah protokoler. 


Penulis : Husnan Husada (Pengamat Sosial)


Top