logo
add image
Blog single photo

INDESIA.ID - Orang boleh mati, benda boleh hancur. Tapi pemikiran dan ideologi tak pernah bisa dihapus atau dimusnahkan. Pada tataran fisik pergerakan kadang tak terlihat, tapi dihati yang penuh misteri tak ada seorangpun tau bagaimana gejolak yang berkembang didalamnya. Begitu juga dengan pergerakan manapun di dunia. Seperti ideologi komunis yang tak bisa musnah walaupun orangnya dibunuh atau semua simbol tentangnya dihapus. Atau yanyian kebebasan ketika zaman the dark of age, walaupun ditentang secara brutal oleh gereja tetap saja tak bisa mati di Eropa kala itu. Justru kemudian pemiiran tentang kebebasan tak terbendung dan berkembang hingga akal adalah tuhan baru di Eropa atas nama kebebasan saat ini.


Penulis tidak hendak membahas soal pemikiran manusia dibenua biru itu, namun soal dinamika yang berkembang di Indonesia secara khusus Aceh. GAM mungkin bubar tapi ideologi GAM tak mungkin ada yang bisa padamkan. Dan ini diakui oleh semua pihak, termasuk pemerintah Republik Indonesia. Tapi karena damai disebabkan bencana 2004 lalu, maka sisi kemanusiaan menjadi lebih tinggi dan penting dari sekedar bertahan dengan senjata dan membiarkan darah terus -terusan tumpah. Siapapun yakin, masing-masing manusia mencintai tanahnya sendiri dan sesuatu yang lumrah juga wajar apa bila mereka merasa paling tau bagaimana cara memakmurkan daerah mereka sendiri. GAM juga demikian, mereka berubah menjadi gerakan politik dengan mendirikan partai lokal di Aceh setelah perdamaian terwujud karena alasan kemakmuran dan kesejahteraan. 


Menjadi menarik ketika mantan kombatan GAM mendirikan partai Aceh lalu dengan mudah memenangkan beberapa kali pilkada. Seperti biasa dalam politik, selalu saja tak ada kata sempurna dan tanpa dinamika. Secara umum kombatan terbelah dimana secara jumlah, partai PA dan PNA yang paling banyak berisikan para kombatan. PA adalah yang pertama lahir, baru kemudian menyusul PNA. PNA tentu lahir karena adanya ketidak sepakatan ataupun cita-cita yang berbeda dengan partai PA.

Dari kedua partai itu, PA dinilai paling bagus struktur komando partai dan paling banyak jumlah kombatan didalamnya. Saat PA membuka diri untuk anggota partai yang non para petempur dulu, disitu PA mulai terlihat sukses melakukan kaderisasi intelektualnya. Partai yang awalnya dianggap terlalu kaku kini berisikan tenaga dan pikiran-pikiran baru yang segar nan muda.


Tapi hasil pemilu 2017 lalu menghentak publik. Walaupun pertarungan sejak awal memang diprediksi tetap dimenangkan oleh salah satu mantan kombatan namun mantan panglima besar GAM sekaligus ketua umum partai PA Muzzakir Manaf yang lebih menonjol dan digadang-gadang untuk menang justru kalah dengan Irwandi Yusuf yang dulunya pernah kalah pada Pilkada tahun 2012. Salah satu politisi yang urung maju dari parnas saat pilkada 2017 lalu mengatakan kalau ia lebih yakin Muzakkir Manaf menang sebab sangat langka kandidat yang pernah kalah untuk menang lagi dalam politik. Tapi hasil mengatakan lain.


Kekalahan Mazakkir Manaf atau yang akrab disapa Mualem tersebut tentu semacam pukulan dan sinyal bagi tokoh politik PA. Ancaman memudarnya pengaruh PA jelas didepan mata saat Mualem gagal mengumpulkan mayoritas suara rakyat Aceh untuk dirinya ketika pilkada. Apalagi sebelumnya rumor yang beredar ada riak-riak ditubuh partai berwarna merah itu.


Kemenangan Irwandi Yusuf-Nova segera menjadi mimpi buruk bagi PA dengan dipergubkannya APBA. Mayoritas anggota DPRA yang berasal dari PA kehilangan dana aspirasi. Seperti jatuh lalu tertimpa tangga, PA saat itu seperti kalah bersinar dengan PNA partai besutan Irwandi Yusuf sang Gubernur terpilih yang dijuluki Capten Tgk Agam. Ramai-ramai tokoh didaerah bergabung dengan PNA. Sebab dalam benak mereka, menjadikan PNA sebagai perahu baru jauh lebih menjanjikan.


Tak ada yang tau soal intrik apalagi takdir, tiba-tiba Irwandi ditangkap KPK atas dugaan kasus DOKA. Bukan hanya Irwandi, seorang bupati dan beberapa orang dekat sang Capten juga ditangkap. Sampai praperadilan terakhir Irwandi masih dinyatakan sebagai tersangka. Kali ini pukulan menyakitkan justru menimpa PNA. Irwandi adalah pesonanya PNA. Kader tampak terpuruk saat sang Capten diterbangkan ke jakarta oleh KPK. Setidaknya itu terlihat saat salah satu kader PNA yang juga ketua satgas PNA untuk beberapa kabupaten kota melompat ke PA setelah ditetapkannya Irwandi sebagai tersangka.


Ditangkapnya Irwandi Yusuf bukan saja ancaman bagi popularitas PNA, tapi juga semacam sinyal bagi kombatan-kombatan lain termasuk petinggi-petinggi PA. Kader-kader partai lokal yang dulu terlihat gemar saling sikut akhir-akhir ini terlihat menyatu dan tidak lagi membuat garis perbedaan. Mereka seakan lebih suka mengangkat motto "asalkan Parlok".


Kesadaran "menunggu giliran" agaknya semacam hantu baru dalam dunia politik Aceh. Segera kader-kader terbaik PA mengambil peran masing-masing. Yang punya popularitas bagus masuk dalam partai-partai nasional agar 2019 tembus ke Senayan. Muharuddin misalnya diberhentikan dari ketua DPRA dan maju dalam pileg 2019 DPR RI melalui partai Nasdem, Abdullah Saleh yang vokal diparlemen Aceh menjadi Caleg DPR RI lewat Partai Gerindra dan juga para politisi PA lainnya. Walaupun kesadaran ini secara umum bukan hanya kesadaran PA, tapi terlihat juga merupakan kesadaran seluruh kombatan, tapi PA paling menonjol karena merupakan rumah paling besar bagi para kombatan.


Mualem sendiri yang dikenal dekat dengan Prabowo Subianto sepertinya sadar harus memanfaatkan momentum pilpres untuk mendongkrak suara partainya dimana turbulensi politik nasional diyakini sangat berpengaruh bagi Aceh yang kental dengan nuansa syariat islam. Animo 212, Al-Maidah 51 dan peristiwa lainnya yang membuat suhu politik nasional memanas akan sangat menguntungkan karena ia sendiri merupakan pembina partai Gerindra Aceh sekaligus ujung tombak pemenangan Prabowo-Sandi di Aceh.


Jika ditingkat nasional Gerindra paling diuntungkan dalam kontestasi Pilpres kali ini, maka di Aceh PA adalah partai yang paling diuntungkan dari semua partai manapun di Aceh jika Muallem sang panglima tau cara bagaimana memanfaatkan situasi yang maha berkah bagi partainya ini. [*] 


Penulis : Setadewa

Editor/Terj : Nasuha


Top