logo
add image
Blog single photo


INDESIA.ID - Dunia internasional kembali digoncang dengan aksi penindasan dan genosida penguasa komunis cina terhadap etnis Uighur yang mayoritasnya Islam. Pengakuan demi pengakuan dari korban intimidasi datang silih berganti kepada lembaga global yang menangani persoalan HAM. Masyarakat internasional yang terasosiasi menggelar aksi demonstrasi secara sporadis, mendesak agar pemerintah china menghentikan langkah keji mereka.

Sampai saat ini, Jumlah korban yang di tahan dalam camp "pendidikan kembali" mencapai 1 juta orang,  data lain bahkan menyebutkan jumlahnya hingga 5 juta orang yang ditawan oleh pemerintah China. Angka angka tersebut tentu akan terus mengalami kenaikan, jika tidak ada kekuatan yang mampu menghentikan tindakan barbar pemerintah China tersebut.

Jika kita merujuk pada sejarah, Hanya 20 tahun setelah Nabi Muhammad SAW wafat, umat Islam tiba di Uighur, Xinjiang, perbatasan Cina, 3.000 km jauhnya dari Mekah. Kaisar Tang, Cina, menawarkan perdamaian, ditandai dengan diterimanya utusan, sahabat Nabi, Saad bin Abi Waqqash ra di pusat kerajaan Cina.

Uighur bergabung dalam daulah Islam di masa Utsman bin Affan ra., dari Uighur inilah teknologi kertas pindah dari Cina ke negeri muslim, sehingga dimulailah penyusunan mushaf Quran Utsmani.

Selama 1.400 tahun Uighur tetap menjadi negeri muslim, walaupun pernah dikuasai Mongol di abad 13 M, bahkan di era imperialis Eropa yang menjajah Cina, para jago kungfu Uighur, Xinjiang ikut terlibat dalam perlawanan mengusir penjajah Eropa, salah satunya dalam tragedi the Boxer, dimana banyak jagoan kungfu Uighur menghabisi tentara gabungan Inggris-Eropa di kota-kota Cina tahun 1900an.

Ketika Mao komunis terusir dari kota-kota Cina tahun 1940an, ia lari ke Xinjiang, menumpang hidup di wilayah Uighur.

Kini komunis berbalik, menghabisi semua simbol Islam, dari negeri yang tersisa Islamnya di Cina. Sebab semua sejarah Islam di Cina sudah banyak dihapus, yang membuat kita tidak paham Wong Fei Hung seorang muslim. Bahwa Kaisar Ming Cina di abad 15 M didominasi oleh gubernur dan jendral muslim hingga melahirkan Cheng Ho.

Saat revolusi Cina oleh Sun Yat Sen tahun 1910 masih ada jendral Cina yang muslim. Dan di tahun 1945 ketika Mao komunis berkuasa, beberapa jendral Cina yang muslim menyelamatkan diri ke Taiwan.

Hingga detik ini, pembelaan dari negara negara muslim belum juga masif, atau bahkan terkesan abai.  Justru negara bukan mayoritas muslim lah  yang sering membela warga muslim etnis Uighur dengan dalih solidaritas kemanusiaan. Kenapa hal demikian bisa terjadi? Kenapa nyali pemimpin negara muslim jadi ciut tatkala ada penindasan terhadap saudaranya di Uighur?

Pemimpin negara muslim harusnya malu, mereka seharusnya sadar diri dan bertanggung jawab atas saudaranya. jangan sampai sejarah mencatat, ada pemimpin negara muslim yang tidak berani membela masyarakat islam etnis Uighur yang menjadi korban genosida. Itu Sungguh ironi, dan sungguh terlalu.

Kalaulah alasan pemimpin negara muslim tidak menggubris pembantaian  etnis  Uighur  karena akan merusak kerjasama yang selama ini telah dibangun dengan pemerintah cina, Itu suatu kekerdilan, apa bedanya dengan pelaku genosida itu?  Bukankah kemanusiaan harus dijunjung tinggi, diatas segala galanya. Tak bisa dimaafkan bila para pemimpin negara muslim tak tersentuh perasaannya melihat saudaranya dibantai.

Kini, saudara kita Uighur butuh bantuan kita semua, doa, dana, tekanan, diplomatik agar Cina menghentikan paksaan komunis atheisnya kepada muslim Uighur. Tak lupa, turut berjuang menegakkan kekuasaan khilafah Islam sbg satu"nya institusi pemersatu umat dan perisai Islam.

Dimana negara Arab, negara Indonesia, Malaysia dan negara Islam lainnya? Apakah kalian hanya menunggu saja melihat bangsa Uighur di basmi? 

Kini masyarakat dunia akan melihat langkah tindakan  kalian atas kejahatan kemanusiaan  etnis Uighur? Beranikah kalian? Atau jangan-jangan kalian takut?.*


*Luthor Antonius (Penulis adalah pengamat sosial politik dan juga pecinta kopi arabica) 

Top