logo
add image
Blog single photo


INDESIA.ID - Siapa yang tidak kenal dengan pendiri bangsa Indonesia Bung Karno? Jejak islam dalam sejarah hidup Bung Karno sampai sekarang masih berbekas. Banyak tulisan tentang bagaimana hubungan Soekarno dengan Islam. 

Soekarno mulai mengenal Islam secara intensif ketika tinggal di kediaman H.O.S Tjokroaminoto, tokoh Sarekat Islam (SI), di Surabaya. Kesadarannya sebagai seorang Muslim datang beriringan dengan kesadaran anti kolonialisme dalam diri Soekarno kala itu. 

Upaya  Soekarno mengkaji  ajaran Islam makin serius  saat ia dibuang ke Ende, Flores oleh penguasa  kolonial (1933). Saat itulah Soekarno mulai menyatakan berbagai pemikirannya tentang Islam kepada para sahabat-sahabatnya, salah satunya A.Hassan dari organisasi Persatuan Islam (Persis). Orang-orang tidak akan melupakan bagaimana Soekarno menulis dan berbicara tentang Islam secara mendalam layaknya seorang cendekiawan.

Jika melihat mesjid Salman kampus ITB kita pasti diingatkan tentang bagaimana sembagat Soekarno membangun mesjid. Sebab waktu panitia pendirian masjid Salman gagal tahun 1960-an, Bung Karno dengan serta merta menanyakan status pembangunan mesjid kampus tersebut. Beliau juga menanyakan gambarnya dan juga memanggil panitia pembangunan. Bahkan sejumlah sumber menyebutkan nama 'Salman' juga diberikan Soekarno karena terinspirasi dari salah seorang sahabat Nabi Muhammad yang merupakan arsitek perang Khandak yang fenomenal itu. Setelah masjid Salman berdiri, maka di ikutilah berdiri sejumlah mesjid lainnya dikampus-kampus seluruh Indonesia. 

Secara rekam jejek Soekarno pernah sangat aktif di organisasi Sarekat Islam dan partai Sarekat Islam sebelum akhirnya ia mendirikan PNI. Saat masa pembuangan di Bengkulu Soekarno juga sangat aktif sebagai anggota Muhammadiyah disana. Sehingga lahir semboyan dari bapak bangsa itu "sekali Muhammadiyah tetap Muhammadiyah". 

Melihat liku dan karya Soekarno memberikan kita pemahaman bahwa keislaman dan kepeloporan juga jasa Soekarno jauh lebih dalam dari pemimpin-pemimpin bangsa setelahnya terhadap Islam. 

Tapi dari semua itu, adalah menarik mencermati bagaimana sikap seorang Soekarno tatkala bersama ulama atau orang yang lebih tinggi ilmu Agamanya dibandingkan dengan beliau. Seperti kisah Soekarno bertemu Daud Beureu'eh di Aceh. Soekarno dengan penuh rendah hati berdiri dibelakang Daud Beureu'eh untuk menjadi makmum dan tidak berdiri sebagai Imam. Soekarno paham, ia tau diri, menjadi Imam punya syarat tersendiri dan agaknya Soekarno juga paham kalau masyarakat justru lebih mencintai pemimpin yang tau kadar diri soal kemampuan dan kelayakan menjadi Imam. 

Pemimpin kita sejatinya harus paham, ruang pencitraan punya batasnya. Konsultan politik dan citra mesti melihat dengan cerdas agar tak memaksa publik untuk mengakui bahwa seseorang layak jadi imam sedangkan disisi lain netizen terus mengulang-ngulang kalimat 'alpateka' atau 'jainudin naciro'. 

Kita semua selayaknya juga jangan mencaci atas kekurangan pemimpin atau calon pemimpin kedepan. Biarlah mereka berjalan secara alami dan jangan dipaksakan kealiman tatkala pilpres tiba. 


Rahmat Musthafa (Penulis adalah pengamat sosial masyarakat dan juga pecinta kopi arabica



Top