logo
add image
Blog single photo


INDESIA.ID - Dulu di Sumatera Utara ada seorang Da'i yang ketika memberikan tulisan dan komentar di surat kabar membuat Sumatera Utara gempar. Sebab ia bukan sekedar bicara kebenaran, tapi pernyataannya selalu mengatas namakan ikatan Da'i Sumatera Utara kala itu. Yang publik bayangkan adalah ada ratusan Da'i berada dibelakangnya. Hasilnya, imbauan beliau banyak memengaruhi publik. Usut punya usut, rupanya beliau hanya sendirian. Tapi gaung perhimpunan Da'i yang beliau buat begitu manjur mengguncang pemerintah kala itu atas kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan.

Kini hal seperti itu terlalu mudah dibaca publik. Tidak ada lagi yang ditutupi. Bahkan perkataan dan perbuatan yang direkam publik tersimpan rapat. Kapan saja ingin dilihat dengan mudah diakses. Dunia digital pada satu sisi bisa memproduksi hoax secara massif dan pada sisi lain menelanjangi juga membongkar kebohongan-kebohongan.

Adalah menarik saat sekelompok orang yang menamakan diri atau mendirikan sebuah perkumpulan di Aceh semacam ikatan Da'i kemudian ikut nimbrung dalam panasnya hiruk pikuk politik. Publik sekarang yang terbelah soal pilihan politik dengan mudah memberikan pandangan bahwa kelompok ini pro capres ini dan kelompok itu pro capres itu. Perkumpulan ini afiliasi kemari dan atau lembaga itu afiliasinya kesana. Singkatnya sejumlah orang melihat ikatan Da'i yang mengusulkan capres mengaji adalah kelompok yang pro salah satu capres. Sayangnya, ikatan Da'i Aceh terlalu tertarik mengurus capres sehingga lupa dan mungkin sengaja melupakan soal serupa terhadap Aceh.

Tak sedikit orang yang mempertanyakan ketika Wali Nanggroe Malek Mahmud naik tahta banyak yang mengusulkan agar ada tes baca Quran, khutbah dan lainnya dilakukan. Saat itu kita tidak mendengar ada ikatan Da'i Aceh yang secara getol seperti sekarang ini mengusul hal serupa. Tiba-tiba ketika pilpres kita menemukan ada ikatan Da'i yang begitu peduli soal syarat baca Quran. Rasanya tepat kata "elu dulu kemana bro??, tidur??" ditanyakan. 

Jika alasan tes uji baca Quran kemudian menjadi alasan mengakhiri polemik keislaman ini jelas keliru, sebab Prabowo dengan jelas mengatakan ia masih banyak kekurangan soal ilmu Agama dan Jokowi jadi bahan guyonan netizen karena 'alpateka'. Sekiranya benar para Da'i tersebut bisa baca Quran dan bisa mendengar juga melihat secara terang huru-hara pilpres, tentu mereka tidak akan ikut nimbrung, sebab kedua capres tentu tak alim soal baca Quran. Yang terjadi justru perdebatan siapa bisa dan siapa tidak bisa semakin memanas. 

Urus Aceh Dulu, Biar Tak Malu

Kita berharap Pilpres tidak menimbulkan permusuhan. Yang bersitegang harus mulai sadar diri. Semua kita ini tentu sama-sama berharap Indonesia jaya. Pancasila sebagai dasar negara kita harus diambil semangat persatuannya dan kita jadikan sebagai ruh kompetisi. Jangan menyudahi polemik dengan membuat polemik baru. 

Bagi Ikatan Da'i Aceh, PR kita terlalu banyak. Jangan terbawa arus pilpres. Pemurtadan yang baru saja dibongkar di Banda Aceh harusnya jadi bahan renungan kita. Kita belum selesai mengurus diri. Bahkan pemimpin kita tak ada jaminan benar soal baca Al Qur'an. Caleg-caleg kita bahkan ada juga yang berguguran karena itu. Jikapun ingin memulai, mulailah dari Lembaga Wali Nanggroe. Sebab dalam sejarah lembaga itu sangat sakral. Jika para Da'i lebih menganggap seksi baca Al Qur'an saat pilpres, tentu kita tidak ingin orang bilang kita lupa mengurus rumah sendiri. *


*Muhammad Bismi (Penulis Adalah Pemerhati Sosial) 

Top